Kamis, 01 Maret 2012

MOTIVASI


                                                                            MOTIVASI


         1)    Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari kata latin movere yang berarti dorongan atau menggerakkan. Motivasi (motivation) dalam manajemen hanya ditujukan pada sumber daya manusia umumnya dan bawahan khususnya. Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengerahkan daya dan potensi bawahan agar mau bekerja sama secara produktif berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang ditentukan.
James L Gibson ( 2007:185 ), mendefinisikan motivasi adalah  “ Kekuatan yang mendorong seorang karyawan yang menimbulkan dan mengarahkan perilaku “. Motivasi merupakan hasrat di dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut melakukan tindakan .
Menurut Wahjosumidjo dalam Kepemimpinan dan Motivasi (1987:174)
“ Motivasi merupakan suatu proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara sikap, kebutuhan, persepsi, dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang. Dan motivasi sebagai proses psikologis timbul atau diakibatkan oleh faktor di dalam diri seseorang yang disebut instrinsik atau faktor di luar diri seseorang yang disebut faktor ekstrinsik “.
Motivasi seseorang dipengaruhi oleh stimuli kekuatan instrinsik yang ada pada diri seseorang / individu yang bersangkutan, stimuli eksternal mungkin juga dapat mempengaruhi motivasi, tetapi motivasi itu sendiri mencerminkan reaksi individu terhadap stimuli tersebut. Wahyusumidjo mengatakan: “Motivasi merupakan daya dorong sebagai hasil proses interaksi antara sikap, kebutuhan, dan persepsi bawahan dari seseorang dengan lingkungan, motivasi timbul diakibatkan oleh faktor dari dalam dirinya sendiri disebut faktor instrinsik, dan faktor yang dari luar diri seseorang disebut faktor ekstrinsik.”
Selanjutnya faktor instrinsik dapat berupa kepribadian, sikap, pengalaman, pendidikan atau berbagai harapan, cita-cita yang menjangkau masa depan. Seseorang sering melakukan tindakan untuk suatu hal dalam mencapai tujuan, maka motivasi merupakan penggerak yang mengarahkan pada tujuan, dan itu jarang muncul dengan sia-sia. Kata butuh, ingin, hasrat dan penggerak semua sama dengan motive yang asalnya dari kata motivasi. Jadi motivasi adalah daya penggerak seseorang untuk melakukan tindakan.
Dari beberapa pengertian tentang motivasi dapat disimpulkan bahwa motivasi harus memusatkan pada faktor-faktor yang menimbulkan atau mendorong aktivitas-aktivitas para individu, faktor-faktor tersebut mencakup kebutuhan, motif-motif, dan drive-drive. Motivasi berorientasi pada proses dan berhubungan dengan pelaku, arah, tujuan, dan balas jasa perilaku yang diterima atas kinerja. Dapat juga disimpulkan “Motif dan motivasi dapat mendorong, menggerakkan aktivitas individu untuk berbuat, bekerja, mengerjakan sesuatu dalam suatu organisasi”.Ada bermacam-macam teori motivasi diantaranya yaitu :

(1)   Teori Hierarki Kebutuhan Maslow
Teori ini dipelopori oleh Abraham Maslow pada tahun 1954.
Ia menyatakan bahwa manusia mempunyai berbagai keperluan dan mencoba mendorong untuk bergerak memenuhi keperluan tersebut. Keperluan itu wujud dalam beberapa tahap kepentingan. Setiap manusia mempunyai keperluan untuk memenuhi kepuasan diri dan bergerak memenuhi keperluan tersebut.
Lima hierarki keperluan menurut Maslow (1954) adalah kebutuhan:
a.       Faali ( fisiologis): antara lain rasa lapar, haus, perlindungan  ( pakaian
        dan perumahan), sex dan kebutuhan ragawi lain
b.      Keamanan :   antara    lain  keselamatan  dan  perlindungan    terhadap
        kerugian fisik dan emosional.
c.       Sosial  :   mencakup  kasih  sayang,  rasa  dimiliki,  diterima baik, dan
                    persahabatan. Penghargaan : mencakup faktor rasa hormat internal
                    seperti harga diri, otonomi, dan  prestasi ; dan faktor hormat eksternal
                    seperti status, pengakuan, dan perhatian.
d.      Aktualisasi diri: dorongan untuk menjadi apa yang ia mampu menjadi
 ;  mencakup   pertumbuhan,  mencapai  potensialnya, dan pemenuhan
 diri.

(2)   Teori Dua Faktor Herzberg
Kajian yang dilakukan oleh Herzberg, Mausner dan Synderman menghasilkan teori dua faktor. Maksud dua faktor tersebut ialah faktor yang memberi kepuasan (motivator) dan faktor yang tidak memberi kepuasan (hygiene). Kehadiran faktor motivator akan menyebabkan seseorang itu merasakan kepuasan kerja, dan ketiadaannya tidak semestinya membawa kepada ketidak puasan kerja. Sebaliknya tidak adanya faktor hygiene  akan menyebabkan ketidakpuasan kerja tetapi kenyataannya tidak semestinya membawa kepuasan kerja.
Teori Maslow mempunyai dua implikasi penting kepada pengurusan organisasi. Pertama, pihak pengurusan perlu mengetahui bila kepuasan hierarki keperluan pekerja bermula dan berakhir supaya mereka dapat merancang sesuatu untuk memotivasi pekerjanya. Kedua, adalah wajar jika keperluan tahap rendah seperti keperluan fisiologi dan keselamatan pekerja telah dipenuhi oleh pihak pengurusan organisasi terlebih dahulu supaya pekerjanya menjadi lebih termotivasi, kreatif dan produktif.

(3)   Teori X dan Teori Y McGregor
Douglas McGregor  dalam Manajemen Sumber Daya Manusia M. Manullang (1998 : 110 -111) mengemukakan dua pandangan yang saling bertentangan tentang kodrat manusia, yang dia sebutkan sebagai Teori X dan Teori Y. Dalam teori X , ancangan tradisionil, McGregor berasumsi bahwa “manusia, pada dasarnya tidak senang bekerja dan tidak bertanggung jawab dan harus dipaksa bekerja. Teori Y, ancangan modern, adalah didasarkan kepada asumsi bahwa “manusia pada dasarnya suka bekerja sama, tekun bekerja dan bertanggung jawab”  Dari ancangan Teori X, manusia adalah satu diantara unsur-unsur produksi selain uang, material serta peralatan, yang kesemuanya harus dikendalikan oleh manajemen.
Manusia adalah sejenis makhluk hedonistis dan cenderung kepada kesenangan serta penderitaan, tidak senang bekerja dan akan menghindari kerja jika dapat. Karena kebencian terhadap kerja, sebagian besar orang-orang harus dipaksa dan diancam dengan hukuman agar membuatnya mengerahkan upaya yang mencukupi untuk mewujudkan tujuan-tujuan organisasi. Dalam masyarakat materialistis dengan taraf hidup yang relatif rendah dan kekurangan lapangan kerja, teori manajemen ini cenderung untuk diterapkan dengan baik, tetapi dalam masyarakat yang kurang materialistis dengan taraf  hidup  yang  lebih  tinggi  serta
peluang-peluang yang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan, ancangan negatif dari teori X akan menemui kegagalan.
Teori Y McGregor, seperti teori X, dimulai dengan asumsi bahwa manajemen bertanggungjawab atas pengorganisasian unsur-unsur produksi, yaitu uang, bahan-bahan, peralatan dan karyawan tetapi kesamaan itu berakhir di sini. Teori Y mengemukakan, motivasi, potensi untuk berkembang, kapasitas untuk memikul tanggungjawab dan kesediaan untuk mengarahkan perilaku ke arah perwujudan tujuan-tujuan organisasi, kesemuanya terdapat di dalam diri individu, tetapi menjadi tanggung jawab manajemen di dalam pengembangannya. Tugas mutlak dari manajemen menurut teori Y adalah mengatur kondisi-kondisi organisasi dan metode-metode operasi agar karyawan dapat mencapai tujuan-tujuannya sendiri dengan mengarahkan upaya-upayanya sendiri ke arah tujuan-tujuan organisasi. Ini adalah suatu pencetusan dari rasa Integrasi. 

(4)  Teori Kebutuhan Akan Prestasi Mc. Clelland
Kebutuhan akan prestasi, walaupun tidak dikemukan secara tegas dalam hierarki kebutuhan Maslow, namun mendasari kebutuhan penghargaan dan aktualisai diri. Begitu pula motivator Herzberg menekankan pengakuan akan prestasi itu penting bagi kekuasaan. Mc. Clelland mengemukkan teorinya yaitu Mc. Clelland’s Achievement Motivation Theory atau Teori Motivasi berprestasi Mc. Clelland. Teori ini berpendapat bahwa karyawan mempunyai cadangan energi potensial .
Bagaimana energi dilepaskan dan digunakan tergantung pada kekuatan dorongan motivasi seseorang dan situasi serta peluang yang tersedia. Energi akan dimanfaatkan oleh karyawan karena dorongan oleh : kekuatan motif dan kekuatan dasar yang terlibat, harapan keberhasilannya, dan  nilai insentif yang terlekat pada tujuan.
 Hal-hal yang memotivasi seseorang adalah :
a.        Kebutuhan akan prestasi (need for achievement), merupakan daya penggerak yang memotivasi semangat bekerja seseorang. Karena itu, need for achievement akan mendorong seseorang untuk mengembangkan kreatifitas dan mengarahkan semua kemampuan serta energi yang dimilikinya demi mencapai prestasi kerja yang maksimal. Karyawan akan antusias untuk berprestasi tinggi, asalkan kemungkinan untuk itu diberi kesempatan. Seseorang menyadari bahwa hanya dengan mencapai prestasi kerja yang tinggi akan dapat memperoleh pendapatan yang besar. Dengan pendapatan yang besar akhirnya memiliki serta memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
b.      Kebutuhan akan afiliasi (need for Affiliation) menjadi daya penggerak yang akan memotivasi semangat bekerja seseorang. Oleh karena itu, need for Affiliation ini merangsang gairah bekerja karyawan karena setiap orang menginginkan hal-hal : kebutuhan akan perasaan diterima oleh orang lain dilingkungan ia tinggal dan bekerja (sense of belonging), kebutuhan akan perasaan dihormati, karena setiap manusia merasa dirinya penting (sense of importance), kebutuhan akan perasaan maju dan tidak gagal (sense of achievement), dan kebutuhan akan perasaan ikut serta (sense of participation). Seseorang karena kebutuhan need for Affiliation akan memotivasi dan mengembangkan dirinya serta memanfaatkan semua energinya untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.
c.        Kebutuhan akan kekuasaan ( need for Power ). Merupakan daya penggerak yang memotivasi semangat kerja karyawan. need for Power  akan merangsang dan memotivasi gairah kerja karyawan serta mengarahkan semua kemampuannya demi mencapai kekuasaan atau kedudukan yang terbaik. Ego manusia ingin lebih berkuasa dari manusia lainnya akan menimbulkan persaingan. Persaingan ditumbuhkan secara sehat oleh manajer dalam memotivasi bawahannya, supaya mereka termotivasi untuk bekerja giat. Orang-bisnis, terutama wiraswastawan-manajer, relatif lebih termotivasi prestasi dibandingkan dengan kolompok lainnya, dalam masyarakat. Ia mengemukakan bahwa para pengejar prestasi (achieverrs) ini mempunyai kualitas sebagai berikut: (1) menyukai situasi aman mereka bertanggung jawab pribadi untuk memecahkan masalah-masalah, (2) Cenderung menetapkan sasaran prestasi yang moderat dan mengambil ‘resiko yang telah diperhitungkan’, (3) menginginkan umpan balik yang konkrit tentang hasil pekerjaan mereka. Individu dengan motivasi berprestasi yang tinggi itu cenderung mengambil resiko yang sedang-sedang (moderate) saja dripada mengadu untung atas situasi dengan kemungkinan imbalan yang tinggi, tetapi kemungkinan kegagalan juga besar, Ini tampaknya secara intuitif berguna. Si pengejar prestasi (achiever) itu tertarik pada rangkaian sukses yang konsisten dan tidak ingin menodai rekornya dengan suatu kegagalan total. Jadi teori Mc. Clelland menyatakan bahwa ada tiga type dasar kebutuhan motivasi yaitu kebutuhan untuk prestasi (need for Achievement), kebutuhan akan afiliasi (need for affiliation), dan kebutuhan akan kekuasaan (need for power). Kepala Sekolah dalam memotivasi para guru hendaknya dapat menyediakan peralatan, menciptakan lingkungan sekolah yang baik, memberikan kesempatan guru untuk mengembangkan karir , sehingga memungkinkan guru untuk meningkatkan semangat kerjanya untuk mencapai need for Achievement, need for affiliation, dan need for power yang diinginkan, yang merupakan daya penggerak untuk memotivasi guru dan staf tatausaha dalam mengarahkan semua potensi yang dimilikinya. Guru sebagai manusia pekerja juga memerlukan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sebagaimana dikembangkan oleh Maslow, Herzberg dan Mc. Fremon E. Kast dan James E. Rosenzweig dan Clelland, sebagai sumber motivasi dalam rangka meningkatkan semangat mengajarnya.
Untuk meningkatkan produktivitas kerja  dalam suatu organisasi diperlukan suatu motivasi yang terus menerus.
Menurut Nawawi (2000 : 351) kata motivasi memiliki kata dasar motif yang berarti dorongan sebab atau dasar seseorang untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian :
Motivasi berarti suatu kondisi yang mendorong atau menjadi sebab seseorang melakukan suatu perbuatan atau kegiatan yang berlangsung secara sadar.”

Menurut Malayu S.P Hasibuan (2002 : 143) mengemukakan bahwa : “Motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif, dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan.”

Untuk mempermudah pemahaman motivasi belajar,  dibawah ini dikemukakan pengertian motif, motivasi, dan motivasi kerja. Abraham Sperling (dalam Mangkunegara, 2002 : 93) mengemukakan bahwa motif didefinisikan sebagai suatu kecenderungan untuk beraktivitas dimulai dari dorongan dalam diri (drive) dan diakhiri dengan penyesuaian diri. Penyesuaian diri dikatakan untuk memuaskan motif. William J. Stantan (dalam Mangkunegara 2002 : 93) mendefinisikan bahwa motif adalah kebutuhan yang distimulasi yang berorientasi pada tujuan individu dalam mencapai rasa puas.
Motivasi didefinisikan oleh Fillmore H. Stanford (dalam Mangkunegara 2002 : 93) bahwa : ”Motivasi sebagai suatu kondisi yang menggerakkan manusia kearah suatu tujuan tertentu.”
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa motif merupakan suatu dorongan kebutuhan dalam diri pegawai tersebut dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya, sedangkan motivasi adalah kondisi yang menggerakkan guru agar mampu mencapai tujuan dari motifnya. Sedangkan motivasi dikatakan sebagai energi untuk membangkitkan dorongan dalam diri (drive arousal).
Dalam hubungannya dengan lingkungan kerja, Senest L. Mc. Cormick (dalam Mangkunegara 2002 : 94) mengemukakan bahwa :
Motivasi kerja didefinisikan sebagai kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja.     

2)      Tujuan Motivasi
            Tujuan motivasi (dalam Hasibuan 2002 : 146) antara lain sebagai berikut :
a.        Meningkatkan moral dan kepuasan kerja guru.
b.       Meningkatkan produktivitas kerja guru.
c.        Mempertahankan kestabilan sekolah.
d.       Meningkatkan kedisiplinan guru.
e.        Mengefektifkan pengadaan guru.
f.        Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik.
g.       Meningkatkan loyalitas, kreativitas, dan partisipasi guru.
h.       Meningkatkan tingkat kesejahteraan.
i.         Mempertinggi rasa tanggung jawab guru terhadap tugas-tugasnya.
j.         Meningkatkan efisiensi penggunaan alat-alat dan bahan baku. 

3)      Faktor Motivasi
            Peterson dan Flowman dalam buku Malayu S.P. Hasibuan (2005 : 93) menyatakan bahwa orang yang mau bekerja karena faktor-faktor sebagai berikut :
  1.  Keinginan untuk hidup. (the desire of life)
  2. Keinginan untuk memiliki sesuatu (the desire for fosession)
  3. Keinginan akan kekuasaan (the desire for power)
  4. Keinginan akan pengakuan (the desire for recognotion)  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar