Kamis, 01 Maret 2012

PRODUKTIVITAS KERJA GURU

                                                         PRODUKTIVITAS KERJA GURU 



       1)  Pengertian Produktivitas Kerja
            Produktivitas adalah hasil kerja dari seseorang atau kelompok organisasi, yang merupakan penampilan (performance) dari seseorang/organisasi tertentu secara keseluruhan. Nanang Fatah (1996:19) menyatakan bahwa : “Prestasi kerja atau penampilan kerja diartikan sebagai ungkapan kemampuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap dan keterampilan dan motivasi dalam menghasilkan sesuatu.”
            Sedangkan, Anwar Prabu (2000:67) mengemukakan bahwa :
” Pengertian produktivitas  adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.”
            Dari kedua pendapat tadi terlihat bahwa, kinerja menentukan ciri dan kualitas seseorang atau organisasi, yang dapat menunjukkan keberhasilan atau ketidak berhasilan orang atau organisasi tersebut, dengan kata lain kinerja merupakan penampilan (performance) yang harus selalu  dijaga dan dipelihara, sehingga menjadikan orang atau organisasi dapat tampil secara memuaskan. Dengan demikian penampilan (performance) memiliki arti yang sangat penting dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu organisasi.
Dalam melakukan pekerjaannya seorang pegawai dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satu diantaranya seperti yang dikemukakan oleh Anwar Prabu (2000:67). Faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor motivasi (motivation)
(1)  Faktor Kemampuan. Secara Psikologis, kemampuan (ability) pegawai terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan relity (knowledge + skill) artinya pegawai yang memiliki (IQ diatas rata-rata 110 sampai 120)   dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari, maka ia akan lebih mudah mencapai kinerja yang diharapkan.
(2)  Faktor Motivasi. Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi (situation) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi (tujuan kerja).
E. Mulyasa (2003:149) menyatakan :
Beberapa prinsip yang dapat diterapkan untuk memotivasi tenaga kependidikan agar mau dan mampu meningkatkan kinerjanya, diantaranya :
(1)          Tenaga kependidikan akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik dan menyenangkan.
(2)          Tujuan kegiatan harus disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada tenaga kependidikan sehingga mereka mengetahui tujuan mereka bekerja. Tenaga kependidikan juga dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut.
(3)          Para tenaga kependidikan harus selalu diberi tahu tentang hasil dari setiap pekerjaannya.
(4)          Pemberian hadiah lebih baik dari pada hukuman, sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan.
(5)          Manfaatkan sikap-sikap, cita-cita dan rasa ingin tahu dari tenaga kependidikan.
(6)      Usahakan untuk memperhatikan perbedaan individual tenaga kependidikan, misalnya perbedaan kemampuan, latar belakang dan sikap mereka terhadap pekerjaannya.
(7)          Usahakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kependidikan dengan jalan memperhatikan kondisi fisiknya, memberikan rasa aman, menunjukkan bahwa pemimpin memperhatikan mereka, mengatur pengalaman sedemikian rupa sehinga setiap tenaga kependidikan pernah memperoleh kepuasan dan penghargaan.

Guru merupakan tenaga professional yang mempunyai tugas khusus untuk mendidik dan mengajar kepada siswanya di sekolah. Oleh karenanya seorang guru dituntut untuk selalu berupaya meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya. Kaitan dengan ini Dedi Supriadi (2003:819) mengemukakan bahwa :
 Seorang guru yang profesional dituntut untuk meningkatkan wawasan serta pengetahuannya di bidang pendidikan dan ilmu-ilmu penunjang umumnya dan proses belajar mengajar. Hanya dengan cara ini guru dapat lebih baik  dan dapat lebih yakin bahwa setiap kegiatan belajar-mengajar yang dikekolanya itu dan sekaligus perwujudan interaksi pendidikan. Lebih jelas lagi seorang guru harus selalu sadar  untuk berupaya.
Dari uraian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa seorang guru dalam meningkatan kinerjanya senantiasa mampu meningkatkan keprofesionalannya. Kemampuan professional berkaitan dengan kemampuan guru untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan bergaul dengan semua pihak yang bersangkutan dengan pendidikan pada khususnya dan orang lain dari semua tatanan masyarakat pada umumnya. Kemampuan profesional merujuk pada keteladanan guru dalam melaksanakan layanan kependidikan. Hal ini diharapkan guru mampu melakukan apa yang harus dilakukannya dengan baik serta memahami batas-batas kemampuan dan tanggung jawabnya.
Pengembangan professional guru dimaksudkan untuk memenuhi tiga kebutuhan yang sungguhpun memiliki keragaman yang jelas, terdapat banyak kesamaan, antara lain :
(1)   Kebutuhan sosial untuk meningkatkan kemampuan sistem pendidikan yang efisien dan manusiawi,  serta melakukan adaptasi untuk penyusunan kebutuhan-kebutuhan sosial.
(2) Kebutuhan untuk menemukan cara-cara untuk membantu staf pendidikan dalam rangka mengembangkan pribadinya secara luas. Dengan demikian, guru dapat mengembangkan potensi sosial dan potensi akademik generasi muda dalam interaksinya dengan alam lingkungannya.
(3)   Kebutuhan untuk mengembangkan dan mendorong keinginan guru untuk menikmati dan mendorong kehidupan pribadinya, seperti halnya dia membantu siswanya dalam mengembangkan keinginan dan keyakinan memenuhi tuntutan pribadi yang sesuai dengan potensi dasar.
Kebutuhan pertama, terkait langsung dengan kepedulian kemasyarakatan guru ditempat mereka berdomisili. Kebutuhan kedua, terkait dengan spirit dan moral guru di sekolah tempat mereka bekerja. Kebutuhan ketiga, dan mungkin yang paling penting adalah sebagai proses seleksi untuk menentukan mutu guru-guru yang akan disertakan dalam berbagai kegiatan pelatihan dan perjenjangan jabatan.
     2)    Guru Sebagai Pusat 
Pengembangan professional guru dapat didekati berdasarkan orientasi kemasyarakatan . Sekolah atau perseorangan. Apakah kita mendekati pengembangan profesional guru dari orientasi masyarakat, sekolah atau perorangan, bukanlah hal yang patut dipersoalkan di sini. Fokus aktivitas pengembangan profesioanl guru adalah kehidupan guru itu sendiri. Banyak diantara guru pemula yang merasa sedih karena mereka tidak dipersiapkan secara matang untuk melaksanakan tugas-tugas komplek dan diperlukan di di dalam kelas. Pendidikan prajabatan bagi guru-guru dinilai masih terlalu lemah sehingga guru-guru pemula masih banyak belajar di dalam pekerjaan, serta saling membantu satu sama lainnya dalam batas-batas yang bisa mereka perbuat.
Profesi guru tampaknya masih relatif berbeda dengan profesi-profesi yang berpijak dari ilmu-ilmu keras (hard sciences). Profesi yang bebasis ilmu-ilmu keras tertentu benar-benar mengondisikan penyandang profesi-profesi itu untuk melakukan praktik-praktiknya berdasarkan teori keilmuan, teori yang benar-benar menjadi masukan dalam praktek. Di samping itu, penyandang profesi  didukung oleh sains yang kompleks, tradisi otoritas profesi, institusi yang kuat dan berpengaruh, dan kesejahteraan pribadi. Demikian juga dalam bidang kedokteran.
3)   Program-program produktivitas kerja Guru
            Ada beberapa cara yang dapat dipakai untuk menyukseskan program sebagai berikut:
(1)   Program   harus   menyeluruh   dan   harus  ada   kesesuaian  relatif   antara masukan-masukan dari masyarakat kaum professional.
(2)   Efek artisipasi yang sama bagi guru-guru untuk menghindari keterasingan dan untuk mengembangkan perasaan bermanfaat, guru harus lebih aktif.
(3)   Partisipasi guru harus ada dalam proses perencanaan, perlu diperbesar partisipasi dalam kelompok, dan memperkuat persepsi mereka mengenai manfaat program.
(4) Memungkinkan bagi guru dan masyarakat untuk mengakses kebutuhan-kebutuhan lokal dan mengambil tindakan yang mereka senangi.
(5)   Program-program diarahkan bagi dan terfokus pada guru, anggota masyarakat dan propesional, dan hal itu tidak  dilepaskan dari masalah-masalah penting di sekitar mereka.
Ada beberapa reposisi untuk meningkatkan mutu pengembangan proporsional, yaitu berikut ini :
(1)   Tugas-tugas dan kegiatan pendidikan dalam jabatan yang berkelanjutan dapat mengembangkan kompetensi professional guru secara regular, meningkatkan mutu sekolah, mempercayai khasanah kehidupan individual guru.
(2)   Ada banyak bentuk pendidikan dalam jabatan yang dapat menampung tujuan-tujuan itu, persyaratan ini membutuhkan kondisi yang berbeda bagi penghantaran yang efektif.
(3)  Banyak hasil penelitian bidang pendidikan dalam jabatan yang bermutu. Sesungguhnya metode-metode pelatihan yang dianjurkan yang diyakini sangat   efektif   banyak   pula , tetapi   hingga   saat ini belum sepenuhnya diterapkan dalam sistem pendidikan dan jabatan.
(4)   Latihan meneliti akan mendorong guru untuk menemukan ide pengembangan profesional, model dan keterampilan mengajar. Hal ini lebih menentukan daripada  kondisi-kondisi kekuatan yang dikreasi.
(5)   Hambatan-hambatan yang diaplikasikan pengalaman menuntut adanya perluasan kegiatan pelatihan secara besar-besaran bagi guru.
(6)   Bagaimanapun juga guru menjadi peserta pelatihan yang lebih efektif daripada peserta lainnya sehingga banyak staf sekolah yang mempunyai kemampuan mengajar orang dewasa lainnya.
(7)   Barangkali banyak sumber pengembangan yang secara potensial efektif menjadi lemah atau salah digunakan saat ini.
(8)   Ekologi sekolah berbeda secara luas dan membangun kombinasi-kombinasi yang sangat berbeda dari pilhan-pilihan stafnya. Pada berbagai situasi yang ada, sesungguhnya produktif yang memungkinkan setiap orang untuk melakukan aktivitas-aktivitas pengembangan dengan kata lain, penerapan konversi.
(9)   Ada beberapa besar di dalam keluasan, yang individu-individunya  mengambil keuntungan dengan cara berbeda dari peluang-peluang yang ada dalam lingkungan mereka. Orang-orang yang berpartisipasi secara aktif dalam satu jenis pengembangan staf cenderung mengerjakan pekerjaan lainnya secara baik, dan mempunyai sifat yang favorable menghadapi pilihan yang ditawarkan, dengan kata lain, kebanyakan orang yang aktif. “Menyeberang keluar” dan merasa tampil percaya diri, oleh karena itu, sistem harus di usahakan untuk menghantarkan pelayanan kepada mereka.
 (10) Kolaborasi pemerintah dengan sekolah, personil atau tokoh masyarakat, kepala, guru dan anggota masyarakat, personil, universitas dan asisten teknis, semuanya muncul menjadi rantai bagi usaha membangun lingkungan yang favorable  dan keterlibatannya sangat krusial.
Program komprehensif pengembangan proporsional guru  hendaknya mempunyai tiga dimensi yaitu sebagai acuan sistem untuk melaksanakan kegiatan pelatihan dalam jabatan (in service training ) yang cocok bagi guru, sebagai bekal di sekolah untuk meningkatkan kualitas program-programnya dan menciptakan  suasana atau kondisi yang memungkinkan guru sebisa mungkin mengembangkan potensinya secara optimal.  Pengembangan proporsional Guru secara Komprehenship, dalam jabatan, memungkinkan adanya model komprehensif bagi pengembangan proporsional guru benar-benar dirasakan sangat mendesak. Untuk itu ada tiga model parsial pengembangan proporsional, yaitu pelatihan dalam jabatan, menjajaki kemungkinan adanya  keterlibatan pemerintah untuk memberi pengakuan yang sama terhadap pekerjaan proporsional dari anggota-anggota komunitasnya dan mencoba memanfaatkan potensi, program-program pengembangan professional dan program-program perbaikan  sekolah sebagai proses yang berkelanjutan. Salah satu bentuk kegiatan pendidikan tambahan dalam jabatan adalah penataran. Permasalahannya hingga saat ini masih ada kesan kuat bahwa kegiatan penataran belum dikelola secara professional. Dalam kontek ini kemudian kegiatan penataran perlu dilakukan secara hati-hati, dan harus ada kejelasan dalam tujuan dan arah, pengetahuan dan keterampilan yang luas serta komitmen professional yang mendalam.
      Kemampuan professional guru antara lain dapat ditingkatkan melalui program pendidikan dalam jabatan, pengembangan professional dimaksudkan untuk memenuhi tiga kebutuhan yang sungguhpun terdapat keragaman yang kentara, yaitu kebutuhan sosial, kebutuhan untuk mengembangkan potensi akademik dan mendorong guru agar dapat menikmati kehidupan pribadinya.

2 komentar:

  1. artikel yang sangat membantu saya dalam tesis istri saya, kalau ada bukunya boleh di emailkan ke saya, aturnuwun

    BalasHapus
  2. mohon izin copy-paste. terimakasih.... sangat membantu untuk bahan referensi tesis teman saya...

    BalasHapus