Senin, 06 Agustus 2012

KECERDASAN EMOSIONAL ( EQ )

Kecerdasan emosional (EQ), pertama kali dipopulerkan oleh Daniel Goleman pada pertengahan tahun 1990-an. Goleman telah melakukan riset kecerdasan emosional (EQ) lebih dari sepuluh tahun. Ia menunggu waktu sekian lama untuk mengumpulkan bukti ilmiah yang kuat. Sehingga saat Goleman mempublikasikan penelitiannya, Emotional Intelligence, mendapat sambutan positif baik dari akademisi maupun praktisi.
Goleman menjelaskan kecerdasan emosional (emotional intelligence) adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Menggunakan ungkapan Howard Gardner, kecerdasan emosi terdiri dari dua kecakapan yaitu : intrapersonal intelligence dan enterpersonal intelligence (Agus Nggermanto, 2003 : 99).
Daniel Goleman dengan gemilang berhasil mengangkat citra kecerdasan emosi. EQ menjadi demikian dihargai dan diapresiasi penuh honmat sebagai terobosan kemajuan perkembangan manusia. EQ memberikan implikasi positif lebih jauh lagi dari sekedar teori ilmiah atau kesuksesan di tempat kerja. Karena berfokus pada intrapersonal dan interpersonal, orang-orang yang ber-EQ tinggi atau yang sedang belajar menerapkan EQ menemukan hidupnya lebih bermakna. Melebihi kesuksesan di tempat kerja, mereka dapat hidup bahagia, menikmati proses kehidupan, secara tulus saling berbagi dan mencintai berkat EQ yang diterapkan dalam kehidupan.
Amir Tengku Ramly (2004 : 26) memberikan rincian lebih lanjut bahwa bila anda berpikir dengan menggunakan kekuatan panca indera datam menyerap infonnasi dan otak kanan sebagai cara bertindak, maka sesungguhnya anda sedang berada dalam pola kecerdasan emosional (EQ). EQ memberi kesadaran mengenai perasaan sendiri dan juga perasaan orang lain. EQ memberi anda rasa empati, cinta, motivasi dan kemampuan untuk menanggapi kesedihan dan atau kegembiraan secara cepat. Cara ini menurut Edwar de Bono disebut dengan berpikir lateral. Menurut Danah Zohar, inilah yang disebut berpikit asosiatif.
Yang menjadi perhatian dari pola EQ adalah kekayaan ragam pemikiran. Pemikiran EQ mendasari sebagian besar kecerdasan emosional mumi, kaitan antara satu emosi dan yang lain, antara emosi dan gejala tubuh, antara emosi dan lingkungan sekitarnya. Ia memungkinkan mengenali pola-pola, seperti wajah atau aroma dan belajar ketrampilan gerak seperti mengendarai sepeda atau mobil. Struktur di dalam otak yang digunakan untuk berpikir asosiatif dikenal sebagai jaringan saraf. Setiap jaringan ini mengandung serangkaian saraf hingga mencapai seratus ribu. Setiap sel saraf dalam satu gugus bisa dihubungkan dengan ribuah gugus saraf yang lain. Tidak seperti jalur saraf (neural tract) yang begitu pasti,
setiap neuron dalam jaringan saraf (neural network) bertindak terhadap atau menerima tindakan dari newon newon yang lain secara simultan.
Keunggulan berpikir lateral / asosiatif adalah bahwa ia dapat berinteraksi dengan pengalaman dan dapat terus berkembang melalui pengalaman. Ia dapat mempelajari cara-cara baru melalui pengalaman yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Ia juga merupakan jenis pemikiran yang dapat mengenali nuansa dan ambiguitas. Kelemahan jenis berpikir ini adalah lambat dalam belajar, tidak akurat dan cenderung terikat kebiasaan dan pengalaman. Dan karena pemikiran asosiatif bersifat `diam', kita sulit berbagi pengalaman dengan orang lain. Kita tidak dapat menuliskan suatu rumusan, lalu menyuruh orang lain langsung menerapkannya.
Secara ringkas Daniel Goleman (1997 58) mendefinikan kecerdasan emosional adalah sebagai kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi; mengandalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir; berempati dan berdo'a. Daniel Goleman membagi dalam lima kategori
1. Kesadaran diri terdiri dari; kesadaran emosi diri, penilaian pribadi dan percaya diri
2. Pengaturan diri terdiri dari; pegendalian diri, dapat dipercaya, waspada, adaptif dan inovatif
3. Memotivasi diri terdiri dari; dorongan berprestasi, komitmen, inisiatif dan optimis
  4. Empati terdiri dari; memahami orang lain, pelayanan, mengembangkan orang lain, mengatasi keragaman, dan kesadaran politis
5. Ketrampitan sosial terdiri dari; pengaruh, komunikasi, kepemimpinan, katalisator perubahan, manajemen konflik, pengikat jaringan, kolaborasi dan kooperasi serta kerja tim.
Apa yang disodorkan oleh Daniel Goleman telah menginpirasi banyak orang dalam pengembangan kecerdasan emosional. Salah satunya apa yang dikembangkan oleh Agus-Steiner (Agus Nggermanto, 2003 : 100). Pengembangan EQ Gaya Agus-Steiner, adalah modifikasi langkah-langkah yang diusulkan Steiner oleh Agus Nggermanto agar lebih cocok dengan budaya k-ita dan mendapatkan hasil yang lebih mendalam. Tiga Iangkah utama mengembangkan EQ adalah membuka hati, menjelajahi emosi, dan bertanggung jawab.
Membuka hati: ini adalah langkah pertama karena hati adalah simbol pusat emosi. Hati kitalah yang merasa damai saat kita bahagia, dalam kasih sayang, cinta, atau kegembiraan. Hati kita merasa tidak nyaman ketika salak sedih, marah, atau patah hati. Dengan demikian, kita mulai dengan membebaskan pusat perasaan kita dan impuls dan pengaruh yang mengatasi kita untuk menunjukkan cinta satu sama lain. Tahap-tahap untuk membuka hati adalah latihan memberikan stroke kepada teman, meminta stroke, menerima atau menolak stroke, dan memberikan stroke sendiri.
Menjelajahi dataran emosi : Sekali kita telah membuka hati, kita dapat melihat kenyataan dan menemukan peran emosi dalam kehidupan, Kita dapat berlatih cara mengetahui apa yang kita rasakan, seberapa kuat, dan apa alasannya. Kita menjadi paham hambatan dan aliran emosi kita. Kita mengetahui emosi yang dialami orang lain dan bagaimana perasaan mereka dipengaruhi oleh tindakan kita. Kita mulai memahami bagaimana emosi berinteraksi dan kadang-kadang menciptakan gelombang perasaan perasaan yang menghantam kita dan orang lain. Secara singkat, kita menjadi lebih bijak menanggapi perasaan kita dan perasaan orang-orang si sekitar kita. Tahapan penjelajah emosi adalah pernyataan tindakan/ perasaan, menerima pernyataan tindakan/ perasaan, menanggapi percikan intuisi, dan validasi percikan intuisi.
Mengambil tanggung jawab Untuk memperbaiki dan mengubah kerusakan hubungan, kita harus mengembil tanggung jawab. Kita dapat membuka hati kita dan memahami peta dataran emosional orang di sekitar kita, tapi itu saja tidak cukup. Ketia suatu masalah terjadi antara kita dengan orang lain, adalah sulit untuk melakukan perbaikan tanpa tindakan lebih jauh. Setiap orang harus mengerti permasalahan, mengakui kesalahan dan keteledor3n yang terjadi, membuat perbaikan, dan memutuskan bagaimana mengubah segala seuatunya. Dan perubahan memang harus dilakukan. Langkah-langkah untuk menjadi bertanggung jawab adalah : mengakui kesalahan kita, menerima atau menolak pengakuan, meminta maaf, dan menerima atau menolak, permintaan maaf.
          Dalam bukunya, Ary Ginanjar (2001 xxxviii) mengutip pemikiran tentang EQ (Emotional Quotient) milik Stephen R. Covey tentang Fabel Aesop. Tentang " keseimbangan P/ PC" - definisi dasar dari efektifitas, dan hubungan kausalitas antara upaya dan hasil. Meminjam istilah Goleman, tentang keunggulan EQ dalam mencapai prestasi, sehingga banyak orang-orang hasil "penggodokan" pemikiran dan teori barat tersebut menjadi terkenal dan mencapai kesuksesan di atas rata-rata. Sepintas lalu kita akan dibuat takjub tentang sebuah keunggulan kekuatan IQ dan EQ manusia. Kita terhenyak oleh sebuah kecerdasan emosi yang temyata bisa sedemikian jauh mendahului sang kecerdasan otak (IQ) dalam berkompetisi. Namun ketakjuban itu tidak terlalu lama. Kita kembali tersentak oleh hasil akhir dari teori EQ dan IQ. Bukankah semuanya hanya berorientasi kebendaan dan hubungan antar manusia semata? Tiadakah teori lain, dengan cara pandang berbeda yang dapat melahirkan sebuah muara selain hanya materi dan hubungan antar manusia? Bukankah hanya mengejar kebendaan, berarti hanya mencakup satujuan saja, yaitu amaliyah yang manifes, antual dan fana (temporary).
Lebih lanjut Ary Ginanjar mengatakan bahwa, setelah mencoba menengok para pengikut teori EQ, kita mencoba "berjingkat-jingkat" memasuki ruang para aliran vertikal secara terpisah (SQ). Mencoba membuat sebuah `penilaian atas fakta' yang merujuk pada realitas eksternaal, dan karakteristik para pendukung kecerdasan spiritual itu (gnostik). Tujuan mereka (goal)-nya bersifat abadi, jangka panjang dan mutlak. Ini dimanifestasikan dalam dimensi pencapaian tujuan ideal yang `menyatu' dalam batin setiap penganutnya (SQ). Setelah upaya `penilaian atas fakta' dilakukan, kita mencoba melakukan `penilaian atau value'. Sebuah tahap penilaian yang menyangkut pula watak dan kualitas SQ. Serta manfaat, kebaikan, keburukan, dan jugaa bagaimana memperbarui serta menyempurnakannya (realitas internal). Dan berbicara mengenai istilah-istilah seperti ini berarti kita harus memberikan keputusan tentang nilai-nilai secara keseluruhan dan terintegrasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar